Halaman

madin

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijj_rUvLm5YG6TIv95znjCtujjcke0h5s7WKkLDBhspR0DMwIH6bKpE3sV1yR2O3nuLEUn-ZEg6RyVT-l_fYVYuyVv3DIWcHznECD30oMwl6_zA5tOZl-7WSxgT9TtCaRzqtlh41iwENs/s320/13712871631688370403.jpg

Senin, 17 Juni 2013

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A.      Hakekat Pembelajaran IPA
1.    Pengertian Pembelajaran IPA
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Menurut Mulyasa, pembelajaran IPA merupakan salah satu pelajaran yang berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam semesta secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya merupakan penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses menemukan. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari dirinya sendiri, alam di sekitarnya dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk pada lingkungan, di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja secara bijaksana.
Dikutip oleh Tisno Hadisubroto, Piaget mengatakan bahwa pembelajaran IPA pengalaman langsung yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif anak. Pengalaman langsung anak yang terjadi secara spontan dari kecil (sejak lahir) sampai berumur 12 tahun, oleh karena struktur kognitif anak-anak tidak dapat dibandingkan dengan struktur kognitif ilmuwan, mereka perlu diberikan kesempatan untuk berlatih keterampilan-keterampilan proses IPA dan yang perlu dimodifikasikan sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya.[2]
2.      Ruang Lingkup Pembelajaran IPA SD/MI
Ruang lingkup bahan kajian pembelajaran IPA SD/MI yang berdasarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) meliputi aspek-aspek berikut:
a.    Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu: manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.
b.    Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya, meliputi: cair, padat dan gas.
c.    Energi dan perubahannya, meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.
d.   Bumi dan alam semesta, meliputi: tanah, bumi, tata surya dan benda-benda langit lainnya.[3]
B.       Tujuan Pembelajaran IPA
1.    Tujuan Pembelajaran IPA SD/MI
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Pembelajaran IPA SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a.    Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaannya.
b.    Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c.    Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
d.   Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
e.    Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
f.     Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g.    Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan kejenjang selanjutnya.[4]
Menurut Made Pidarta, tujuan pembelajaran adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan selanjutnya. Para peserta didik dan warga belajar perlu mengembangkan aspek-aspek jiwanya dan menumbuhkan aspek-aspek jasmaninya. Sebab, pembentukkan pribadi yang baik akan dicapai bila pengembangan afektif dilakukan secara optimal.[5]
Secara umum Oemar Hamalik mengatakan bahwa, pembelajaran bertujuan untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai bakat minat, kemampuan dan lingkungannya. Di samping itu juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berfikir, sikap dan nilai peserta didik sebagai individu, anggota masyarakat, makhluk sosial dan budaya agar nantinya mampu hidup di tengah-tengah masyarakat dengan baik dan dapat beradaptasi dengan makhluk di sekitarnya.[6]
2.    Prinsip Pembelajaran IPA SD/MI
Pembelajaran IPA di SD/MI merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungan sekitanya. Hal ini pembelajaran IPA perlu mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran tersebut. Guru berkewajiban untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran IPA. Tujuan ini tidak terlepas dari hakikat IPA sebagai produk, proses dan sikap ilmiah. Oleh sebab itu, pembelajaran IPA perlu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang tepat.
Asy’ari Muslicah memaparkan beberapa prinsip pembelajaran IPA di SD/MI sebagai berikut:
a.       Empat pilar pendidikan global yang meliputi learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Learning to know, artinya dengan meningkatkan interaksi siswa dengan lingkungan fisik dan sosialnya diharapkan siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuan tentang alam sekitarnya. Learning to do, artinya pembelajaran IPA tidak hanya menjadikan siswa sebagai pendengar melainkan siswa diberdayakan agar mau dan mampu untuk memperkaya pengalaman belajarnya. Learning to be, artinya dari hasil interaksi dengan lingkungan siswa diharapkan dapat membangun rasa percaya diri yang pada akhirnya membentuk jati dirinya. Learning to live together, artinya dengan adanya kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu akan membangun pemahaman sikap positif dan toleransi terhadap kemajemukan dalam kehidupan bersama.
b.      Prinsip Salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, masyarakat). IPA memiliki prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi. Sedang perkembangan teknologi akan memacu penemuan prinsip-prinsip IPA yang baru.
c.       Prinsip pemecahan masalah, pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhadapan dengan berbagai macam masalah. Disisi lain, salah satu alat ukur kecerdasan siswa banyak ditentukan oleh kemampuannya memecahkan masalah. Oleh karena itu, pembelajaran IPA perlu menerapkan prinsip ini agar siswa terlatih untuk menyelesaikan suatu masalah.
d.      Prinsip pakem (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Prinsip ini pada dasarnya merupakan prinsip pembelajaran yang berorientasi pada siswa aktif untuk melakukan kegiatan baik aktif berfikir maupun kegiatan yang bersifat motorik.
Keempat prinsip itu perlu dikembangkan dalam pembelajaran IPA yang kontekstual di SD/MI. Hal ini bertujuan agar pembelajaran IPA lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa, sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa maksimal.[7]
C.      Model Pembelajaran Kooperatif
1.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Pada dasarnya, cooperative learning  mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama, struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, serta terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.[8]
Pembelajaran cooperative learning merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan tingkat kemampuan berbeda. Jadi, dalam setiap kelompok terdapat peserta didik yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi. Dalam menyelesaikan tugas, anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami materi pelajaran.[9]
Slavin memberi pemahaman bahwa pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dengan menganut sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5-6 orang secara kolaboratif dengan struktur kelompok heterogen.[10]
Cooperative learning berbeda dengan strategi pembelajaran yang  lain, perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses belajar kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk menguasai materi tersebut.
Terdapat beberapa variasi dari model pembelajaran kooperatif, yaitu: Student Teams Achievement Devition (STAD), Team Assisted Individualization (TAI), Team Game Tournament (TGT), Group Investigation (GI) dan pendekatan struktural  yang meliputi: Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT).[11]
2.    Ciri-ciri pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran koopertif ini mempunyai beberapa ciri, antara lain:
a.    Keterampilan sosial
Artinya keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi dalam kelompok untuk mencapai dan menguasai konsep yang diberikan guru.
b.    Interaksi tatap muka
Setiap individu akan berinteraksi secara bersemuka dalam kelompok. Interaksi yang serentak berlangsung dalam setiap kelompok melalui pembicaraan setiap individu yang turut serta mengambil bagian.
c.    Pelajar harus saling bergantung positif
Artinya setiap siswa harus melaksanakan tugas masing-masing yang diberikan untuk menyelesaikan tugas dalam kelompok itu. Setiap siswa mempunyai peluang yang sama untuk mengambil bagian dalam kelompok, siswa yang mempunyai kelebihan harus membantu temannya dalam kelompok itu untuk tercapainya tugas yang diberikan kepada kelompok itu. Setiap anggota kelompok harus saling berhubungan, saling memenuhi dan saling bantu-membantu.[12]

3.    Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin yang dikutip oleh Cartono dalam bukunya, terdapat beberapa manfaat dari pembelajaran kooperatif, selain meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa, pembelajaran kooperatif juga memberikan manfaat-manfaat besar lain seperti berikut ini:
a.    Siswa yang diajari dengan struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.
b.    Siswa yang berpartisifasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.
c.    Dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada teman-temannya, dan di antara mereka akan terjalin rasa ketergantungan yang positif untuk proses belajar mereka nanti.
d.   Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.[13]
4.    Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu: a penjelasan materi, b belajar dalam kelompok, c penilaian dan d pengakuan tim.

a.    Penjelasan Materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok. Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat dan tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demontrasi.
b.    Belajar Dalam Kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran. Selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokkan dalam pembelajaran kooperatif bersifat heterogen, artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan latar belakang agama, sosial ekonomi dan etnik serta perbedaan kemampuan akademis tinggi.
c.    Penilaian
Penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individu maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
d.   Pengakuan Tim
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.[14]
5.    Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
a.    Keunggulan Pembelajaran Kooperatif
Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya:
1)   Melalui pembelajaran siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa yang lain.
2)   Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3)   Dapat membantu siswa untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4)   Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5)   Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain.
6)   Melalui pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik, siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7)   Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8)   Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berfikir.
b.    Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
Di samping keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan, diantaranya:
1)   Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan ini dapat mengganggu suasana kerja sama dalam kelompok.
2)   Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
3)   Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan waktu yang cukup panjang, tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan.
4)   Kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu idealnya melalui pembelajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal tersebut dalam pembelajaran kooperatif memang bukan pekerjaan yang mudah.[15]


D.      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
1.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Tipe ini melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya, mengandung unsur permainan yang bisa menggairahkan semangat belajar dan mengandung reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih, di samping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Muheb mengatakan, bahwa TGT merupakan bentuk pembelajaran kooperatif dimana setelah peserta didik belajar dan berlatih dalam kelompok, masing-masing anggota kelompok akan mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuannya. Penilaian kelompok didasarkan pada poin nilai yang didapat.[16]
2.    Langkah-Langkah dalam Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Model Pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki beberapa tahapan dalam pembelajaran, diantaranya:

a.    Penyajian Kelas (Class Presentations)
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas atau sering juga disebut dengan presentasi kelas (class presentations). Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah yang dipimpin oleh guru.
Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game atau permainan karena skor game atau permainan akan menentukan skor kelompok.
b.    Kelompok (Teams)
Kelompok biasanya terdiri dari 5-6 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat permainan. Setelah guru memberikan penyajian kelas, kelompok bertugas untuk mempelajari lembar kerja. Dalam belajar kelompok ini kegiatan siswa adalah mendiskusikan masalah-masalah, membandingkan jawaban, memeriksa dan memperbaiki kesalahan-kesalahan konsep temannya jika teman satu kelompok melakukan kesalahan.
c.    Permainan (Games)
Permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan materi, dan dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan permainan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Permainan ini dimainkan pada meja turnamen atau lomba oleh 3 orang siswa yang mewakili kelompoknya masing-masing. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor.
d.   Penghargaan Kelompok (Team Recognition)
Setelah permainan berakhir, guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing kelompok akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Kelompok mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 50 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 50-40 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 40 kebawah. Hal ini dapat menyenangkan para siswa atas prestasi yang telah mereka buat.[17]
3.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
a.    Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut:
1)   Model TGT tidak hanya membuat siswa yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi siswa yang berkemampuan akademis lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan yang penting dalam kelompoknya.
2)   Dengan model pembelajaran ini akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya.
3)   Dalam model pembelajaran ini membuat siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada siswa atau kelompok terbaik.
4)   Dalam pembelajaran ini membuat siswa menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa permainan.
b.    Kelemahan Model Pembelajaran Kooperaif Tipe TGT
Kelemahan dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut:
1)   Dalam model pembelajaran ini, guru dituntut untuk pandai memilih materi pelajaran yang cocok untuk model ini.
2)   Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik sebelum diterapkan. Misalnya, membuat soal untuk setiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tahu urutan akademis siswa dari yang tertinggi hingga terendah.[18]
E.       Sumber Daya Alam
1.    Pengertian Sumber Daya Alam
Berdasarkan yang dikemukakan oleh Haryanto bahwa, sumber daya alam adalah bahan dari alam yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sejalan dengan pandangan haryanto, Jufri juga mengemukakan bahwa, sumber daya alam adalah kekayaan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Sumber daya alam yang dimaksud sebagai materi ajar untuk SD/MI yaitu sebagai berikut ini:
a.    Kelompok benda berdasarkan asalnya
Berbagai benda terlihat sangat berbeda satu sama lainnya. Akan tetapi, jika ditelusuri, benda-benda itu berasal hanya dari beberapa sumber daya alam saja. Beberapa sumber daya alam yang dibedakan sebagai berikut:
1)   Benda yang berasal dari tumbuhan




Gambar 1.1: Bahan makanan yang berasal dari tumbuhan
Seluruh bagian tumbuhan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Akar, batang, daun, bunga, buah dan biji memberikan banyak kegunaan. Bagian-bagian tumbuhan itu banyak yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Setelah mengalami pengolahan, bagian tumbuhan dapat dibuat menjadi berbagai macam benda, seperti: bahan pangan, bahan sandang, peralatan rumah tangga, produk kesehatan dan perawatan tubuh.



2)      Benda yang berasal dari hewan



Gamba 1.2: Bahan makanan yang berasala dari hewan
Hampir semua bagian hewan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Daging, susu, telur, kulit, tulang dan bulu hewan memberi banyak kegunaan. Bagian-bagian tubuh hewan itu banyak yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Setelah mengalami pengolahan, bagian tubuh hewan itu dapat dibuat menjadi berbagai macam benda, seperti: bahan pangan, bahan sandang dan produk kesehatan.
3)      Benda yang berasal dari bahan alam tidak hidup




Gambar 1.3: Benda yang berasal dari bahan tak hidup
Bahan alam tidak hidup yang bermanfaat bagi manusia antara lain: tanah, batuan dan bahan tambang. Pada umumnya, berbagai bahan ini dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.[19]

2.    Macam-Macam Sumber Daya Alam
Berdasarkan ketersediaannya sumber daya alam terbagi dalam dua keompok besar yaitu, sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui:
a.    Sumber daya alam yang dapat diperbaharui
Sumber daya alam yang dapat diperbarui yaitu semua kekayaan alam yang mudah diadakan kembali jika habis. Contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui, seperti: sumber daya alam dari tumbuhan, hewan, tanah, air dan hutan.
b.   Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharuhi
Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaruhi adalah semua kekayaan alam yang jika sudah habis sulit diadakan kembali. Contoh sumber daya alam yang tidak dapat diperbaruhi, seperti: batu bara, minyak bumi dan barang tambang logam.[20]
Berdasarkan penjelesan di atas, sumber daya alam yang penulis maksud dalam skripsi ini adalah sumber daya alam yang menjadi salah satu standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Dengan tercantumnya dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar agar siswa dapat memperluas pengetahuannya tentang sumber daya alam dan lingkungan hidup, mengenai klasifikasi sumber daya alam, aneka sumber daya alam dan pemanfaatan sumber daya alam serta lingkungan hidup mengenai keseimbangan lingkungan, perubahan lingkungan, pencemaran lingkungan. Pentingnya mempelajari ini, diharapkan memiliki pengertian dan kesadaran dalam pemanfaatan sumber daya alam juga disertai dengan pemeliharaan dan pelestariannya.
F.       Penerapan Model Pembelajaran TGT Pada Materi Sumber Daya Alam
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu:
1.    Persiapan
a.    Persiapan materi
Sebelum melakukan kegiatan pembelajaran guru menentukan materi pelajaran terlebih dahulu untuk diajarkan dengan tipe TGT, membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan dipelajari siswa dalam bentuk kelompok. Selain itu juga perlu perangkat soal untuk masing-masing kelompok dan juga seperangkat soal tournament yang berisikan soal sejumlah kartu-kartu yang tersedia dalam lembar jawaban untuk pegangan guru.
b.    Pembentukan kelompok
Kelompok dibentuk yang terdiri dari 5-6 orang siswa yang memiliki suatu campuran prestasi akademik, fungsi utama kelompok adalah untuk menyakinkan bahwa seluruh anggota kelompok itu belajar dan siap mengikuti turnamen dengan baik.
2.    Tahap Pembelajaran
a.    Penyajian materi pelajaran
Materi pelajaran yang diajarkan dengan TGT pada awalnya dipresentasikan melalui penyajian kelas, guru menyajikan materi secara langsung. Dalam hal ini siswa diharapkan benar-benar dapat memahami materi pelajaran bukan dengan cara dihafal.
Agar pelaksanaan proses belajar dikerjakan dengan baik, guru perlu menekankan konsep kepada siswa, mengapa materi itu perlu dipelajari dan aplikasinya dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini perlu disampaikan untuk memotivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan serius tanpa beban dan menyenangkan.
b.      Kerja Kelompok
Selama kerja kelompok berlangsung, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang telah dipresentasikan oleh guru dan membantu teman satu tim unuk menguasai materi tersebu. Guru membagi LKS kepada siswa untuk dipelajari. LKS diberikan di samping untuk melatih kemampuan kooperatif siswa, sebelum kerja kelompok dimulai, hendaknya guru memberikan aturan-aturan seperti semua anggota kelompok bertanggung jawab untuk menguasai materi, saling membantu dan berdiskusi dengan teman satu kelompok dengan sopan suara pelan agar tidak mengganggu kelompok lain.
c.    Turnamen
Pada permulaan turnamen, siswa diminta untuk duduk pada meja turnamen yang telah disiapkan. Setiap kelompok mempunyai 5 kartu, setiap satu kartu waktunya 2 menit. Siswa berlomba-lomba untuk mencari jawaban dengan cepat, apabila telah selesai satu kartu nama maka mengambil kartu berikutnya, tanpa harus menunggu waktu habis. Kemudian setelah habis waku 10 menit, setiap kelompok berhenti bekerja  dan juru bicara membacakan hasil kerjanya, apabila jawaban benar maka dapat bernilai 100.
d.   Penghargaan kelompok
Menghitung nilai kelompok terdapat tiga macam penghargaan. Yaitu, good team (skor rata-raa 40), great team (skor rata-rata 45) dan super team (skor rata-rata 50). Selanjutnya guru dapat memberikan hadiah berupa sertifikat, penghargaan kepada kelompok tersebut dan memberi motivasi agar lebih giat untuk belajar.
G.      Hasil Belajar
Dalam kegiatan pembelajaran banyak usaha yang dilakukan seorang guru yang bekerja sama dengan muridnya untuk meningkatkan prestasi atau hasil belajar. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan, metode dan model pembelajaran yang menarik, dengan menggunakan pendekatan tersebut diharapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa akan lebih baik dari sebelumnya.
Menurut Anni, hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar dapat diketahui melalui evaluasi untuk mengukur dan menilai apakah siswa sudah mengusai ilmu yang telah dipelajari sesuai tujuan yang telah ditetapkan.[21]
Jadi, seorang guru dapat mengetahui hasil belajar siswa setelah melakukan proses pembelajaran dengan cara melakukan evaluasi.

H.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Dalam proses belajar yang dihadapi oleh siswa banyak faktor –faktor yang dapat mempengaruhi, diantaranya:
1.    Faktor Internal
Faktor ini merupakan fakor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Faktor internal terdiri dari faktor biologis dan faktor psikologis.
a.    Faktor fisiologis (jasmaniah)
Faktor fisiologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan, faktor fisiologis yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu keadaan fisik siswa disaat sedang mengikuti pelajaran, seperti: sakit, capek, pusing, ngantuk dan cacat.
b.   Faktor psikologis (rohaniah)
Faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang mantap dan stabil. Kondisi mental yang mantap dan stabil ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal, terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses belajar. Faktor psikologis yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu intelegensi, yang meliputi: bakat, minat dan motivasi,
2.    Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu yang dapat mempengaruhi hasil belajar.
Slameto mengemukakan bahwa, ada tiga bagian faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor  eksternal meliputi: keluarga, sekolah dan masyarakat.
a.    Faktor keluarga
Keluarga merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada belajar anak, karena keluarga merupakan sekolah yang paling dasar sebelum anak keluar ke dunia lain baik itu sekolah maupun masyarakat. Faktor ini mencakup di dalamnya keadaan orang tua ketika mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, bimbingan dari orang tua, suasana keluarga dan keadaan ekonomi keluarga.
b.   Faktor sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang pembelajarannya terkontrol dengan baik, faktor sekolah juga memberi pengaruh pada belajar siswa terutama keadaan guru, media dan alat-alat pembelajaran yang ada di sekolah, kondisi ruangan, kurikulum dan kedisiplinan sekolah tersebut.
c.    Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan wadah bagi anak didik untuk mengembangkan diri mereka, kondisi masyarakat di sekitar tempat tinggal siswa sangat berpengaruh bagi perkembangan dirinya.[22]




[1] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2009), hal. 110.
[2] Usman Samatowa, Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar, (Jakarta: PT Indeks, 2011), hal. 5.

[3] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,.,,,’ hal. 111.
[4] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.,,,’  hal. 111.

[5] Made Pidarta, Landasan Kependidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hal. 13.

[6] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: Alumni, 1986), hal. 23.

[7] Kurnia Septa, Prinsip-Prinsip Pembelajaran IPA di SD, diakses melalui situs:  http://www.sekolahdasar.net/2011/06/prinsip-prinsip-pembelajaran-ipa-di-sd.html#ixzz2Rlg81QFj, 24 April 2013.
[8] Etin Solihatin & Raharjo, Cooperative Learning, Analisis Model Pembelajaran IPS, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal. 4.

[9] Maryono, PTK Untuk Lomba Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2001, (online), di akses melalui situs: http//www.geocities.com, 9 maret 2013

[10] Slavin, Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: IKIP Persada, 2006), hal. 9.
[11] Cartono, Metode dan Pendekatan Dalam Pembelajaran Sains, (Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia, 2007), hal. 49.
[12] Winastwan Gora & Sunarto, PAKEMATIK Strategi Pembelajaran Inovatif Berbasis TIK, (Jakarta: PT Alex Media Komputindo, tt), hal. 59-60.

[13] Cartono, Metode dan Pendekatan Dalam Pembelajaran Sains.,,,’ hal. 44.
[14] Nuralam, Strategi Pembelajaran, (Banda Aceh: Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, 2009), hal. 69-70.
[15] Nuralam, Strategi Pembelajaran.,,,’ hal. 70-71.

[16] Sukro Muheb, Model-Model Pembelajaran Bidang Sains dan Latihan Guru SMA-SMA Aceh, (Banda Aceh: UNJ, 2004), hal. 13.
[17] Slavin. R. E, Cooperative Learning Teori, (Bandung: Nusa Media, 2008), hal. 102.
[18] Slavin. R. E, Cooperative Learning Teori,,,.’ Hal. 112.
[19] Haryanto, Soal dan Penyelesaian Sains, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 100.
[20] Haryanto, Soal dan Penyelesaian Sains.,,,’. Hal. 170.
[21] Chatarina Tri Anni, Psikologi Belajar, (Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Malang, 2005), hal. 4.
[22] Thursan Hakim, Belajar Secara Efektif, (Jakarta: Puspa Swara, tt), hal. 3-4.
 umadin, S. Pd.I